Bayi Gaib Bayi Tumbal Bayi Mati (2018)

Mengetahui ada nama “legendaris” di balik film (bukan Rizal Mantovani), saya memang tidak pernah berekspektasi ‘Bayi Gaib Bayi Tumbal Bayi Mati’ akan menyuguhkan sebuah horor yang berkualitas, sebaliknya saya dalam hati justru berharap-harap film ini bisa mengajak saya bernostalgila ke jaman ‘Genderuwo’ dan ‘Selimut Berdarah’ (toeeeet).

Makanya saya kemudian tidak akan heran ketika kepala mulai terasa pusing dan perut bergejolak ke arah mual-mual, ini bukan efek kolesterol meninggi, tapi murni reaksi formula ajaib sang legenda.

‘Bayi Gaib Bayi Tumbal Bayi Mati’ memang tak akan seepik karya-karya masterpiss-nya dulu, tapi film ini jelas bagaikan homage, lewat dialog-dialog cerdasnya yang menggelikan serta adegan-adegan yang mengkerutkan volume otak.

Saya bisa dibilang sudah pasrah sejak logo Dee Company muncul di layar, termasuk ketika nanti ‘Bayi Gaib Bayi Tumbal Bayi Mati’ sama sekali tidak terlihat seperti film horor, meskipun sudah memberikan berbagai penampakan makhluk halus.

Pengharum ruangan otomatis yang menyemburkan isinya tiap 30 menit sekali di kamar saya, justru lebih bisa menghadirkan momen jump scare yang lebih efektif. Alih-alih bergidik ngeri, satu-persatu adegan horornya malah menghasilkan tawa geli bercampur sumpah serapah secukupnya. Toeeet.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s