Danur 2: Maddah (2018)

Dibandingkan sekilas saja, Awi jelas mencoba belajar untuk lebih percaya diri dan memperbaiki caranya menakut-nakuti, hasilnya bisa tampak pada momen-momen yang memang difungsikan merangsang rasa takut di ‘Danur 2’ yang kali ini diembel-embeli ‘Maddah’ (sesuai dengan buku kedua Risa).

Yah, tidak semua berhasil, tapi setidaknya ada beberapa momen yang membuat gue pada akhirnya teriak “anjing” secara halus, termasuk saat Sophia Latjuba sedang khusyu dzikir dan si setan mengikuti gerakannya (klo tidak salah ini ada di trailer).

Memanfaatkan atmosfer rumah dan bisa lebih sedikit bersabar membangun horor, ‘Danur 2’ kemudian tak saja lebih baik dalam urusan menakuti, tapi juga hadirkan peningkatan rasa mencekam ketimbang film pendahulunya.

Meski dampak seram belum seratus persen maksimal membuat gue merapal ayat kursi, setidaknya gue bisa memaafkan sederetan jump scare recehan dan efek suara berisiknya, berkat usaha ‘Danur 2’ hadirkan horor yang layak untuk ditakuti.

Saran gue sih cobalah untuk acuh pada karakter-karakter dan bahkan ceritanya yang dangkal, maka ‘Danur 2’ akan bisa lebih (ikhlas) untuk dinikmati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s