My Generation (2017)

Sekilas gue ingat kata-kata Marilyn Manson di “Bowling for Columbine” yang intinya anak-anak itu butuh banyak untuk didengarkan. Mau anak jaman dulu atau kid jaman now, yang namanya masalah akan selalu ada, bedanya sekarang mereka punya teknologi untuk menyampaikan keluhan itu, mereka punya caranya sendiri untuk mencurahkan masalah mereka. Salah-satu caranya mungkin akan sebrengsek Zeke dan kawan-kawannya, brengsek hingga akhirnya orang tua mereka lihat itu nga bener.

Well, mungkin hanya dengan cara itu Zeke, Suki, Konji dan Orly bisa bebas berpendapat, tanpa harus melulu dikurung dalam label pemberontak dan dijejali banyak ceramah duluan. Mereka hanya mau didengarkan, di “My Generation” kita dikasih tahu cara mereka mencari perhatian untuk didengarkan, tapi tentu saja nga ada yang mau dengar, bangsat emang.

Upi tak sekedar sodorkan tontonan yang gue rindukan, film yang dia banget, tapi juga menyempilkan sentilan dan mengingatkan satu hal “dengarkan dengan benar sebelum terlambat” kira-kira itulah yang gue tangkap. Dihadirkan dengan cerita yang bertutur jujur-blak-blakan, “My Generation” berhasil menggaplok tak hanya generasi tua bangka, tapi juga mereka yang merasa berstatus anak millenial.

Konflik yang nampol dada, chemistry yang juga dicipta gokil, segokil kelakuan Suki dan gengnya, serta daftar lagu-lagu di soundtracknya (termasuk Rayakan Kemenangan-nya Morfem) bikin “My Generation” film drama remaja yang beda dan cukup istimewa secara personal. Bangsatlah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s