Terbang: Menembus Langit (2018)

Meski Dion Wiyoko dan Laura Basuki tampilkan akting yang apik dalam menghidupi karakter Onggy dan Candra, meski gambar-gambar hasil tangkapan Padri Nadeak menciptakan sinematografi yang aduhai, dan (meski) production value-nya boleh dikatakan tidak main-main. Potensi tersebut seakan disia-siakan, toh pada akhirnya “Terbang Menembus Langit” justru sulit untuk dinikmati secara ikhlas dan gagal mempertahankan daya tariknya hingga ke ujung durasi.

Beban berat memikul “pesan-pesan moral” dan “adegan yang menginspirasi” kemudian memaksa penceritaan jadi terasa tidak utuh, film malah tampak seperti kumpulan sketsa yang saling tumpang-tindih berjejalan. Alih-alih mendapati ritme bertutur yang mengalir tenang, transisi adegan satu ke adegan berikut malah silih berganti terburu-buru bak dikejar-kejar ibu kontrakan.

Saya tidak diberi waktu untuk duduk sebentar di rumah orang tua Onggy, saya tidak sempat mampir ke toko untuk mengenal lebih dekat Kakak Onggy, saya tak punya waktu untuk bercanda lebih lama dengan teman-teman kost Onggy, parahnya saya juga tak pernah benar-benar mengenal Onggy dan Candra, apalagi merasakan chemistry mereka. Eh, abang yang baik itu siapa namanya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s