Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Dengan judul semenarik ‘Perempuan Tanah Jahanam’, wajar jika gue berharap isinya memang jahanam. ‘Perempuan Tanah Jahanam’ memang kejam tapi tak sampai memancing mulut lalu mengumpat sumpah serapah belepot kata kotor.

Awalnya menjanjikan, lihat saja opening-nya hingga kita sampai di desa yang cocok dijadikan untuk lokasi syuting ‘KKN di Desa Penari’, tapi entah kenapa penceritaan berujung tak berkesan, terlebih paruh akhir yang bikin ingin gorok leher.

Susah payah menyeret penonton untuk nyemplung ke kubangan misteri penuh tanda tanya sampe otak mendidih. Tapi dengan mudah ambil jalan pintas untuk memberi jawaban, malah terlalu banyak penjelasan dengan cara yang tak terbayangkan bisa ada di film Joko Anwar (yah, ternyata memang bisa ada).

Nasi sudah jadi bubur, bubur sudah jadi belatung dilalerin. Momen Tara Basro nyender di pohon itu mungkin termaklumi klo gue sedang nonton film Mantovani. Penyelesaian yang justru membenamkan potensi film ini untuk seutuhnya jadi jahanam.

Separuh menggiurkan berlumurkan misteri yang sengaja menyesatkan, bertaburkan teka-teki membingungkan, berkabut atmosfer cekam menyesakkan. Eh, separuh kemudian menggelikan, mengerutkan kulit dahi, melunturkan ketertarikan. Kejam tapi tidak jahanam, mungkin seperempat jahanam.

Asmara Abigail keren sekali btw.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

close-alt close collapse comment ellipsis expand gallery heart lock menu next pinned previous reply search share star